Stand keris milik Wahyu Eko Setiawan dari TosanAji.id di Cangkrukan Ekonomi Pancasila, Rabu (5/8/2026).

Cangkrukan PWNU Jatim: Ruh Ekonomi Pancasila adalah Budaya

Semangat forum yang digagas PWNU Jawa Timur untuk memperluas makna Ekonomi Pancasila, tidak hanya berbicara mengenai kebijakan fiskal, UMKM, dan investasi, tetapi juga menempatkan kebudayaan sebagai salah satu modal utama.

,Rabu 5 Agustus 2026, 08:32 WIB
471
H
Hainor Rahman

MALANGDi antara deretan stan UMKM yang meramaikan Cangkrukan Ekonomi Pancasila yang di gagas PW NU Jawa Timur di NK Cafe, Karangploso, Malang, Rabu (5/8/2026), satu stan menarik perhatian pengunjung. Bukan karena menjual makanan atau produk fesyen, melainkan karena memamerkan bilah keris Nusantara yang sarat nilai sejarah sekaligus bernilai ekonomi.

Stan milik TosanAji.id itu menghadirkan koleksi keris dari berbagai daerah, mulai Keris Majapahit, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Cirebon hingga era Kasunanan Pakubuwono.

Melalui pameran tersebut, pengunjung diajak melihat keris bukan sekadar pusaka, melainkan karya budaya yang menyimpan nilai seni, sejarah, dan potensi ekonomi.

Wahyu Eko Setiawan yang akrab disapa Samwes, mengatakan pihaknya tengah mengembangkan digitalisasi koleksi pusaka melalui TosanAji.id sebagai upaya menjaga warisan budaya agar tetap lestari dan dapat dikenal generasi mendatang.

"Kami berperan mendigitalisasi pusaka, khususnya koleksi keris. Ini adalah benda warisan masa lalu. Tantangannya sekarang bagaimana mempertahankan dan mendokumentasikan kekayaan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman," ujarnya.

Menurut Samwes, kehadiran stan keris dalam Cangkrukan Ekonomi Pancasila bukan sekadar menampilkan koleksi pusaka. Lebih dari itu, ia ingin menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan bagian penting dari fondasi ekonomi nasional.

"Kalau berbicara Ekonomi Pancasila, salah satu ruhnya adalah ekonomi budaya. Kekayaan budaya harus menjadi modal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keris adalah salah satu produk budaya yang memiliki nilai ekonomi sangat besar," katanya.

Ia menilai selama ini keris masih sering dipahami dari sisi mistik, padahal di balik setiap bilah tersimpan nilai seni kriya yang tinggi. Mulai dari teknik tempa, ukiran, hingga penggunaan material seperti emas, perak, maupun batu mulia yang menunjukkan tingginya keterampilan para empu Nusantara.

"Keris bukan semata benda pusaka. Ini karya seni. Ada nilai kriya, ada sejarah, ada kreativitas, dan semuanya memiliki nilai ekonomi budaya yang sangat besar apabila dikelola dengan baik," jelasnya.

Bagi Samwes, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang hampir tidak ada habisnya untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Karena itu, pembangunan ekonomi berbasis budaya dinilai sejalan dengan semangat Ekonomi Pancasila yang berakar pada identitas bangsa.

"Kalau kita membahas ekonomi budaya, kita tidak akan pernah kehabisan sumber daya. Indonesia sangat kaya budaya. Bahkan nilai-nilai dalam lima sila Pancasila lahir dari kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Karena itu budaya harus menjadi bagian dari strategi membangun ekonomi nasional," ujarnya.

Melalui keikutsertaan dalam Cangkrukan Ekonomi Pancasila, ia berharap semakin banyak masyarakat memandang keris sebagai warisan peradaban yang layak dilestarikan sekaligus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Keberadaan stan tersebut melengkapi semangat forum yang digagas PWNU Jawa Timur untuk memperluas makna Ekonomi Pancasila, tidak hanya berbicara mengenai kebijakan fiskal, UMKM, dan investasi, tetapi juga menempatkan kebudayaan sebagai salah satu modal utama pembangunan ekonomi Indonesia.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman