HM Sanusi: dari Anak Petani Tebu hingga Jadi Orang Nomor 1 Kabupaten Malang
Bupati Malang HM Sanusi. (Foto: Prokopimkab Malang)

HM Sanusi: dari Anak Petani Tebu hingga Jadi Orang Nomor 1 Kabupaten Malang

Bupati Malang HM Sanusi merayakan ulang tahun yang ke-66. Perjalanan hidup Abah Sanusi ini menjadi potret anak petani mampu menapaki jalan panjang pengabdian hingga menjadi pemimpin daerah.

,Rabu 20 Mei 2026, 20:11 WIB
1.4K
A
Achmad Fikyansyah

MALANGBupati Malang HM Sanusi merayakan ulang tahun yang ke-66, Rabu, 20 Mei2026. Perjalanan hidup pria yang akrab disapa Abah Sanusi ini menjadi potret tentang bagaimana seorang anak petani dari Gondanglegi mampu menapaki jalan panjang pengabdian hingga menjadi pemimpin daerah.

Perjalanan hidup Sanusi bukanlah kisah tentang jalan yang serba mudah. Ia pernah menjalani hidup sebagai guru madrasah, dosen, aktivis organisasi keagamaan, hingga membantu keluarga bertani tebu di kampung halamannya.

Dari ruang kelas sederhana hingga ruang rapat pemerintahan, langkah hidupnya bergerak perlahan, tetapi konsisten. Politik baginya tidak datang secara instan, melainkan tumbuh dari kedekatan dengan masyarakat akar rumput yang telah ia jalani sejak muda.

Karier politiknya pun dibangun dari bawah. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang, Wakil Ketua DPRD, Wakil Bupati, hingga akhirnya dipercaya memimpin Kabupaten Malang sebagai bupati. Di tengah dinamika politik yang silih berganti, Sanusi tetap mempertahankan citra sebagai figur sederhana dengan gaya komunikasi khas masyarakat desa dan kultur nahdliyin yang melekat kuat dalam dirinya.

Lahir dari Keluarga Petani Tebu

Sanusi lahir di Gondanglegi, Kabupaten Malang, 20 Mei 1960. Orang tuanya merupakan petani tebu. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan pedesaan yang lekat dengan kultur Nahdlatul Ulama (NU), kehidupan santri, dan tradisi gotong royong masyarakat agraris.

Kehidupan keluarga yang sederhana membentuk karakter Sanusi yang dikenal membumi dan dekat dengan masyarakat bawah. Bahkan dalam beberapa kisah, orang tuanya sempat berharap ia meneruskan profesi sebagai petani dibanding menjadi pegawai negeri. Ia menikah dengan Hj. Anis Zaidah dan dikaruniai empat anak.

Riwayat Pendidikan: Dari Madrasah hingga Magister

Latar pendidikan Sanusi cukup kuat di jalur pendidikan Islam. Mulai dari  MIN Gondanglegi (1969–1974), Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Gondanglegi  (setingkat SMP) pada 1974–1977, dan MAN Gondanglegi (1977–1980).

Sanusi remaja kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris di IAIN Sunan Ampel Surabaya (kini UIN Sunan Ampel Surabaya) tahun 1986–1990. Di beberapa kesempatan, Abah Sanusi sempat menceritakan bahwa bangku kuliah tidak dia lewati dengan mudah. Dia bahkan harus menyambi menjadi supir truk sambil kuliah.

"Jadi beberapa kali kuliah bawa truk, bukan untuk pamer, tapi setelah kuliah harus langsung kirim, jadi sekalian dibawa," ujarnya.

Setelah itu, dia juga melanjutkan pendidikan magister do  STIE Mitra Indonesia Yogyakarta, program Magister Manajemen sekitar 1999–2001.
Latar belakang pendidikan agama dan ekonomi inilah yang kemudian membentuk gaya kepemimpinannya: religius namun pragmatis dalam pembangunan daerah.

Pernah Menjadi Guru, Dosen, hingga Petani

Sebelum dikenal sebagai politisi, Sanusi lebih dulu berkarier di dunia pendidikan.
Tahun 1983, ia diangkat sebagai PNS di lingkungan Kementerian Agama dan mengajar di MAN Gondanglegi. Ia juga pernah mengajar di SMP Pisang Candi Malang.

Tidak hanya menjadi guru sekolah, Sanusi juga pernah menjadi dosen di Universitas Islam Malang atau Unisma, bahkan disebut pernah menjabat Dekan Fakultas Syariah.

Meski telah menjadi pendidik, ia tetap dekat dengan dunia pertanian. Di sela aktivitas mengajar, Sanusi masih membantu usaha keluarga di sektor tebu. Pengalaman ini membuatnya cukup memahami persoalan petani, khususnya di wilayah selatan Kabupaten Malang.

Besar dari Lingkungan NU dan GP Ansor

Karier organisasi Sanusi tumbuh dari lingkungan Nahdliyin. Ia aktif di berbagai organisasi sosial keagamaan sebelum masuk politik praktis.
Beberapa jabatan organisasi yang pernah diemban:

- Sekretaris KUD Gondanglegi (1990–2000)
- Bagian Dakwah MWC NU Gondanglegi
- Pengurus Departemen Koperasi PC GP Ansor Kabupaten Malang
- Sekretaris PAC GP Ansor Gondanglegi
- Ketua Takmir Masjid Darussalam
- Pengurus LPNU MWC NU Gondanglegi
- Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Malang

Jejak panjang di organisasi NU membuat basis sosial-politiknya kuat di kalangan warga nahdliyin Kabupaten Malang.

Memulai Karier Politik Bersama PKB

Setelah era reformasi dan lahirnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Sanusi mulai aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Karier politiknya berkembang cukup cepat:
- 1999: Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang
- 2001–2011: Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Kabupaten Malang
- 2004–2014: Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang.

Selama lebih dari satu dekade di DPRD, Sanusi dikenal membangun kekuatan politik berbasis akar rumput, terutama di kawasan Gondanglegi, Turen, hingga wilayah Malang Selatan.

Menjadi Wakil Bupati hingga Bupati Malang

Puncak karier politik Sanusi dimulai pada Pilkada 2015. Saat itu ia maju sebagai Wakil Bupati Malang mendampingi Rendra Kresna dan berhasil memenangkan Pilkada.  Namun dinamika politik berubah ketika Rendra Kresna tersandung kasus korupsi pada 2018. Sanusi kemudian ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Malang sebelum akhirnya menjadi Bupati Malang definitif pada 2019.

Menjelang Pilkada 2020, Sanusi mengambil langkah politik besar dengan meninggalkan PKB dan bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Bersama Didik Gatot Subroto, ia kembali memenangkan Pilkada Kabupaten Malang.

Pada Pilkada 2024, Sanusi kembali maju bersama Lathifah Shohib dan memenangkan kontestasi dengan suara dominan. Ia kemudian dilantik kembali sebagai Bupati Malang periode 2025–2030.

Gaya Kepemimpinan “Abah Sanusi”

Di kalangan masyarakat Kabupaten Malang, Sanusi dikenal dengan sapaan “Abah”. Julukan itu muncul karena gaya komunikasinya yang santai, sederhana, dan dekat dengan masyarakat desa.
Ia dikenal sering turun langsung ke lapangan, menghadiri kegiatan keagamaan, bertemu kelompok tani, hingga aktif dalam agenda sosial kemasyarakatan. Basis NU yang kuat juga membuat citranya lekat sebagai pemimpin religius dengan pendekatan kultural khas Malangan.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan transformasi seorang anak petani desa yang pernah menjadi guru, dosen, aktivis organisasi, politisi DPRD, wakil bupati, hingga akhirnya tiga kali memimpin Kabupaten Malang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Achmad Fikyansyah
|
Editor:Ferry Agusta Satrio