Dugaan Korupsi Nikel Rp2,7 Triliun Dihentikan KPK, SP3 Sudah Terbit Setahun Sebelum Pengumuman
Arsip foto - Mantan mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman (tengah), bersiap meninggalkan gedung KPK usai diperiksa di Jakarta, Selasa (17/10/2017). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Dugaan Korupsi Nikel Rp2,7 Triliun Dihentikan KPK, SP3 Sudah Terbit Setahun Sebelum Pengumuman

KPK hentikan penyidikan kasus korupsi eks Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman karena tak ada kecukupan bukti dan delik suapnya telah kedaluwarsa. SP3 ternyata sudah terbit setahun sebelum diumumkan ke publik.

,Selasa 6 Januari 2026, 20:46 WIB
250.9K
A
Antara

JAKARTAKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK) klarifikasi terkait jeda waktu sekitar satu tahun antara penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada 17 Desember 2024 dengan pengumuman penghentian kasus mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman pada 26 Desember 2025.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa SP3 telah disampaikan kepada pihak-pihak terkait setelah diterbitkan. "Nah, itu makanya kami sampaikan pada kesempatan ini. Kemudian kemarin, pekan lalu ya, sudah kami sampaikan juga terkait penerbitan SP3 perkara Konawe Utara ini. Apa yang menjadi dasar penerbitan SP3 itu juga sudah kami jelaskan," katanya di Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Kasus ini bermula ketika KPK menetapkan Aswad Sulaiman sebagai tersangka pada 3 Oktober 2017. Ia diduga menyebabkan kerugian negara minimal Rp2,7 triliun dari penjualan nikel hasil perizinan yang melawan hukum, serta menerima dugaan suap hingga Rp13 miliar dari sejumlah perusahaan antara 2007–2009.

Pada 14 September 2023, KPK berencana menahannya, namun batal karena tersangka dilarikan ke rumah sakit. Budi menegaskan bahwa pada saat itu, KPK masih menggunakan dua delik, yaitu kerugian negara dan suap, karena SP3 belum diterbitkan.

Alasan penghentian penyidikan, menurut KPK, adalah:

  1. Tidak ditemukan kecukupan bukti untuk delik kerugian negara karena BPK RI mengalami kendala dalam menghitung kerugian.

  2. Delik suap sudah kedaluwarsa, sehingga tidak dapat dilanjutkan.

Pengumuman resmi baru dilakukan pada akhir Desember 2025, padahal SP3 telah terbit setahun sebelumnya.

Menanggapi hal ini, mantan Wakil Ketua KPK periode 2015-2019 Saut Situmorang pada Pada 30 Desember 2025 lalu, menegaskan bahwa perhitungan kerugian negara sebesar Rp2,7 triliun pada masa kepemimpinannya itu, bukan perhitungan yang dipaksa ada, tetapi dapat dipertanggungjawabkan.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Antara
|
Editor:Faizal R Arief