TIMES BUKIT TINGGI, JAKARTA – Seruan untuk memboikot Piala Dunia 2026 kembali mengemuka di media sosial. Ajakan ini mencuat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman terhadap Meksiko serta munculnya kasus penembakan Renee Good oleh petugas ICE di Minneapolis yang memicu kecaman luas.
Selain itu, Donald Trump sebelumnya mengeluarkan aturan melarang warga dari Iran, Senegal, Pantai Gading dan Haiti untuk masuk ke Amerika Serikat. Aturan larangan ini diyakini bertambah seiring eskalasi gloabal.
Rentetan kasus ini kemudian memunculkan ajakan boikot di media sosial dengan menggunakan tagar #BoycottWorldCup. Kampante ini banyak diikuti oleh akun dari luar negeri.
Meski beberapa kelompok sejak sebelumnya sudah memprotes harga tiket dan isu penyelenggaraan, gelombang terbaru disebut dipicu oleh situasi politik dan keamanan di AS menjelang turnamen.
Sejumlah aktivis internasional mengumumkan pembatalan tiket mereka karena merasa AS bukan destinasi yang aman bagi wisatawan, terutama bagi imigran dan warga negara asing. Ada pula pihak yang menilai bahwa kebijakan luar negeri Trump dan ketegangan dengan negara lain bertentangan dengan semangat olahraga yang seharusnya inklusif dan netral secara politik.
FIFA sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas seruan boikot tersebut. Pada tahun lalu, pemerintahan Trump meluncurkan program “FIFA Pass” untuk mempercepat proses visa bagi pemegang tiket Piala Dunia, namun langkah itu belum meredakan kekhawatiran soal keamanan dan kebijakan imigrasi.
Jika tren protes terus berlanjut, Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi salah satu gelaran olahraga paling politis dalam sejarah modern FIFA. Hingga kini, belum ada indikasi perubahan jadwal atau format turnamen dari pihak penyelenggara.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni–19 Juli 2026 dan digelar secara bersama oleh AS, Kanada, dan Meksiko. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Meningkat Imbas Kebijakan Trump dan Isu Keamanan
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |